Mendikbud Minta Maaf?

Assalamualaikum, teman-temaaaaaaaaaaaan!

Alhamdulillah, akhirnya setelah 4 hari bergelut dalam pertarungan sengit, kini UNBK telah berakhir! Tapi bukan berarti setelah ini saya berhenti belajar sih, pasalnya saya masih harus mempersiapkan diri menghadapi USM STIS yang akan digelar bulan mei nanti. Doakan semoga saya lulus, ya! Eh, dan berhubung tinggal menghitung jam lagi menunggu pengumuman SNMPTN, saya mulai deg-deg-an nggak karuan, semoga saya dan teman-teman semua dapat lulus di PTN yang diimpikan, ya! Aamiin Ya Allah :)

Ohiya, berbicara soal UNBK, satu kata untuk UNBK tahun ini: 'mengecewakan'. Bukannya sombong, tapi melihat soal-soal tahun lalu dan berbagai macam prediksi soal yang tersebar luas, saya cukup percaya diri untuk menargetkan nilai 100. Namun, setelah berhadapan dengan soal-soalnya yang sangat jauh dari ekspektasi saya, saya hanya bisa berharap nilai saya mencapai KKM. Tapi sebenarnya saya tidak begitu peduli sih, toh nilai UN tidak menjamin apa-apa, entah buat SN ataupun SB, apalagi masa depan yang gemilang, hei bung, kau terlalu naif jika berpikir demikian! Namun yang saya khawatirkan adalah membuat orang-orang yang telah menaruh harapan mereka pada saya menjadi kecewa dengan nilai saya yang jauh dari bayangan. Saya tidak mau lagi mengecewakan siapa-siapa.

Tentu saja, ini bukan cuma pendapat saya, karena faktanya saya hanya satu dari sekian ribu pelajar di indonesia yang merasakan hal serupa. Dan satu hal yang saya tidak habis pikir adalah permintaan maaf yang disampaikan oleh mendikbud terkait soal UNBK yang dinilai terlalu sulit. Memangnya apa yang beliau harapkan dengan meminta maaf? Apakah dengan begitu nilai-nilai kami yang kemungkinan anjlok bisa simsalabim berubah menjadi kepala 9? Maksud saya, UNBK ini kan merupakan salah satu kebijakan mendikbud dalam rangka meningkatkan standar mutu pendidikan di indonesia, dan mungkin salah satu caranya adalah dengan mempersiapkan soal dengan tingkat kesulitan yang lebih daripada tahun-tahun sebelumnya. Sudah jelas ini disengaja kan? Lalu untuk apa meminta maaf atas 'kesalahan' yang dilakukan dengan sengaja? Eh, itupun kalau bisa disebut sebuah kesalahan sih.

Satu hal yang saya tidak terima adalah soal-soal yang diujikan sangat jauh dari kisi-kisi yang diberikan, walaupun masih dalam ranah yang sama, namun model soalnya asing dan berbeda dengan soal tryout, simulasi, bahkan USBN. Jelas saja kami merasa ditipu habis-habisan, kebetulan saya mengambil mata pelajaran fisika sebagai pelajaran peminatan, dan begitu saya melihat soal, saya merasa seperti tidak pernah belajar fisika selama 3 tahun. Eh, mungkin sedikit berlebihan sih, jujur saja, saya bisa menjawab beberapa, tapi saya tidak yakin apakah jawaban saya benar atau tidak.

Belakangan ini muncul rumor yang beredar bahwa mata pelajaran tersulit di UNBK tahun ini adalah fisika, kimia, dan matematika. Kalau ada yang bertanya, apakah saya menyesal memilih fisika? Jawabannya tidak sama sekali. Bahkan awalnya teman-teman saya banyak yang menyarankan saya untuk memilih biologi, karena yah memang hampir 3/4 teman-teman sekelas saya memilih biologi sih, tapi saya tetap nekat memilih fisika. Bukannya saya tidak suka biologi sih, tapi saya hanya ingin keluar dari zona nyaman *alah* dan saya pikir fisika bisa menawarkan kenyamanan yang sama bahkan lebih *bacot*. Saya suka biologi, tapi saya berfikir bahwa terus-menerus bersembunyi di balik hal yang kita sukai tidak akan membuat kita berkembang, kita hanya tumbuh membesar tapi dunia kita tetap kerdil. Kita bisa belajar untuk bangkit karena kita pernah jatuh, kita jatuh karena jalan yang kita tempuh berbatu, kasar, menanjak, dan berbahaya, bukan jalan mulus beraspal halus seperti paha artis korea. Mengutip kata salah satu sastrawan yang saya follow di instagram, "Orang-orang besar tumbuh bersama keputusan-keputusan besar yang diambilnya bukan oleh kemudahan-kemudahan hidup yang didapatnya."-@lenangmanggala

Ohiya, menurut saya, kalau memang mendikbud serius ingin meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini, menyelenggarakan UNBK mungkin langkah yang tepat, tapi seharusnya dilakukan secara serentak, bukan menggunakan sistem sesi-sesi-an, karena hal ini justru akan mengasah skill menyontek para siswa. Tidak ada yang bisa menjamin kan, soal akan tetap aman dan tidak akan bocor sampai sesi terakhir? Mungkin hanya sedikit yang menyadari bahwa semakin inovatif pemerintah dalam pelaksanaan Ujian Nasional, semakin inovatif pula siswa dalam memperbaharui metode kecurangan. Hal ini akan terus berlanjut, tidak peduli sesempurna apapun kurikulum yang dirancang, kalau moral sudah rusak, semuanya sia-sia, hanya buang-buang anggaran. Istilah ini sudah basi sih, tapi saya hanya ingin menautkannya di sini bahwa menyontek tidak akan berakhir selama nilai lebih dihargai daripada kejujuran. Orang-orang akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh nilai tinggi dengan mengabaikan nilai-nilai kejujuran seperti yang dimuat dalam kurikulum yang katanya berbasis pendidikan dan budi pekerti ini.

Kalau mau menilik nilai-nilai yang dimuat dalam kurikulum pendidikan yang sekarang sih, semua orang akan terkagum-kagum saking tegasnya torehan-torehan moral yang disusun apik, tapi untuk apa teori sempurna sedangkan dalam praktik nol besar?
Di dunia ini banyak orang pintar, tapi orang jujur? Sedikit. Orang pintar dan jujur? Hampir tidak ada. Orang pintar, baik hati, jujur, cantik, sholehah, taat aturan, berbakti pada orang tua dan guru, berbudi pekerti luhur, rajin menabung, dan ramah lingkungan? Berhenti menghayal, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna.

Sudahlah ya, sepertinya pembahasan ini terlalu berat, saya nggak sanggup melanjutkannya wkwk. Harapan saya, semoga UNBK tahun ini bisa menjadi pelajaran agar UNBK tahun depan dapat lebih baik lagi. Segala kesalahan tahun ini semoga dapat diperbaiki di tahun depan. Sudah ya, saya capek mengetik, sampai jum-

"JADI MENDIKBUDNYA GIMANA? DIMAAFIN NGGAK?"

Hm, untuk yang satu itu, nanti ya, tunggu sampai saya lihat hasil pengumuman! Wkwk, bubaayy!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato : Gaya Hidup dan Pergaulan Remaja Masa Kini

Puisi : Generasi Muda

Puisi : Munajat Cinta