Postingan

Kesehatan Mental di Tengah Pandemi Covid-19

Sejak Covid-19 ( Corona Virus Disease- 2019) dideklarasikan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO), seluruh dunia mulai bergerak mengantisipasi segala kemungkinan. Beberapa negara dengan catatan kasus terbanyak seperti Italia dan Spanyol mulai menerapkan lockdown demi menekan masifnya penularan virus jenis baru ini. Di samping itu, Wuhan, kota yang menjadi episentrum penyebaran virus corona mulai pulih dan menata kembali roda kehidupannya. Tak dapat dipungkiri, seiring dengan mengglobalnya Covid-19, maka semakin kompleks pula aspek kehidupan yang terkena dampaknya. Tidak hanya krisis kesehatan, sektor ekonomi, politik, dan terlebih sosial pun ikut terseret dalam pusarannya. Beragam kebijakan dibuat, berbagai upaya digelontorkan. Tidak hanya pemerintah, rakyat pun turut mengudarakan tuntutan dan kecamannya. Inilah, itulah. Pemerintah pun ikut berdalih, inilah, itulah. Ibarat kapal, kita semua sedang terombang-ambing dalam badai besar di tengah samudera yang tepi...

UNHAS-POLSTAT STIS, PilihanNya, TeguranNya kah? #1

Assalamualaikum, teman-temannn! Pertama-tamaaa saya mau ngucapin Selamat hari raya Idul Fitri 1440 H! Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin, Mohon maaaaffff lahir bathiiiinnn!!! Alhamdulillah, akhirnya saya kembali dengan postingan baru setelah lamaaaaaaaa blog ini luput dari perhatian saya hehe (ngos-ngosan ngelap keringat). Sebenarnyaaa ini udahhh hampiiirr satu tahunn gengss, hampiirrr bangett setahun sejak saya berniat mengangkat judul ini jadi bahan celotehan di blog abal-abal saya. Dulu, awalnya, saya udah sempat nulis sampai 4 paragraf tapi lebih banyak bacotnya daripada bobotnya yg bikin saya auto mager lanjutin dan keterusan sampe sekarang. Yahh, gimana ya, padahal saya sempat beberapa kali ngebuka blog ini buat lanjutin cerita soal gimana lika-liku kehidupan saya setelah melepas status sebagai seorang siswa, ceilah. Tapi begitu buka, jempol saya di luar kendali malah mencet buat baca postingan-postingan lama saya yg cuma seuprit itu sambil senyum-senyum ...

Bapak, Bukan Pahlawan Berkapak

Assalamualaikum, teman-teman! Seperti postingan-postingan saya sebelumnya, postingan ini juga lahir di luar perencanaan saya apalagi prediksi dokter. Ide untuk nulis ini tiba-tiba aja nemplok di kepala saya tanpa konfirmasi sebelumnya. Saya sih seneng-seneng aja, lumayan kan, jarang-jarang bisa nafkahin blog saya yang belakangan ini terbengkalai wkwk, maafkan mama, nak! Untuk masalah ide ini terlintasnya kapan dan dimana nggak usah ditanyalah, ya, pasti kalian semua udah tau. Saat-saat kapan sih kita lagi gabut berat di tengah-tengah aktifitas alam yang nggak memerlukan kerja otak penuh sehingga fungsi otak pada saat itu dialihkan untuk memikirkan hal-hal receh yang sebenarnya nggak penting sama sekali. Yaudahlah ya, pikir aja sendiri. Oke, mungkin mukadimahnya udah kepanjangan, so langsung aja ya. Oh iya, sebelum ada salah paham yang membuat saya harus menggelar konferensi pers karena postingan ini, saya hanya mau mengingatkan kalau kali ini saya akan membahas bapak saya, bukan ba...

Mendikbud Minta Maaf?

Assalamualaikum, teman-temaaaaaaaaaaaan! Alhamdulillah, akhirnya setelah 4 hari bergelut dalam pertarungan sengit, kini UNBK telah berakhir! Tapi bukan berarti setelah ini saya berhenti belajar sih, pasalnya saya masih harus mempersiapkan diri menghadapi USM STIS yang akan digelar bulan mei nanti. Doakan semoga saya lulus, ya! Eh, dan berhubung tinggal menghitung jam lagi menunggu pengumuman SNMPTN, saya mulai deg-deg-an nggak karuan, semoga saya dan teman-teman semua dapat lulus di PTN yang diimpikan, ya! Aamiin Ya Allah :) Ohiya, berbicara soal UNBK, satu kata untuk UNBK tahun ini: 'mengecewakan'. Bukannya sombong, tapi melihat soal-soal tahun lalu dan berbagai macam prediksi soal yang tersebar luas, saya cukup percaya diri untuk menargetkan nilai 100. Namun, setelah berhadapan dengan soal-soalnya yang sangat jauh dari ekspektasi saya, saya hanya bisa berharap nilai saya mencapai KKM. Tapi sebenarnya saya tidak begitu peduli sih, toh nilai UN tidak menjamin apa-apa, entah...

2018-Tahun Luar Biasa

Assalamualaikummm, teman-teman! Wahhh, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali saya mampir ke blog ini. Maklum, kesibukan anak sma kelas 3 membuat saya terlena dan tersiksa :"(( Yah, di penghujung masa putih abu ini tentu selain disibukkan dengan ujian-ujian yang datang berbondong-bondong membumi hanguskan para siswa, kami juga disibukkan dengan bayangan-bayangan akan jadi apa kami di masa depan(ceilah). Ohiya, kenapa judulnya tahun 2018 adalah tahun yang luar biasa pasti kalian sudah bisa menerkanya sendiri. Tahun ini akhirnya saya bisa mengurus ktp dan ikut pemilu! Eh, tp sebenarnya sy belum mengurus sih, mager, nanti aja kalo lagi butuh banget wkwk, jangan dicontoh. Ohiya, bulan lalu saya sedang mengalami masa-masa berkabung yang amat pilu, soalnya saya dua kali ikut lomba cerdas cermat matematika dan dua-duanya gagal hiks :"(( sedih kann? Tapi saya percaya bahwa Allah sudah menyiapkan sesuatu yang lebih indah. Yah, saya akuin sih, kalau saya terlalu meremehkan...

Puisi : Munajat Cinta

MUNAJAT CINTA Nadia Nur Afifa, 2017 Cinta Goresan awal lembaran kisah Desiran yang kini menjadi debaran Riak yang tumbuh menjadi gelombang Suka yang matang menjadi cinta Genangan menua menjadi samudera Setiap hal seakan haus akan dewasa Kini jarak terbentang melintasi waktu Merobohkan pasak harapan yang kubangun Menyiksaku dalam rengkuhan rindu Sesak, erat, rintihku dalam peluk Mengeja waktu yang tak kenal tunggu Menantimu di monumen rindu Percayaku, kita pasti akan bertemu Aku jatuh dalam kubangan cinta Jurang dosa berbalut nikmat Aku hilang di telan asmara Menggerogoti hingga ke dada Aku jatuh terlalu dalam Terlelap begitu lama Menikmati syahdunya alunan rima Tentang dirimu yang kucinta Hingga akhirnya aku tersadar Rasa ini mengepungku melingkar Kau bertahta bagai Sang Raja Menaklukan tiap sudut jiwa Mengultimatum tiap jengkal raga Dengan satu propaganda: CINTA Kau tahu, Aku bukan pujangga Yang mahir meran...

Puisi : Hujan Pagi Ini

HUJAN PAGI INI Nadia Nur Afifa, 2017 Pagi ini hujan turun lagi Seakan tak bosan menyapa hari Walau hadirnya menghalangi mentari Entah mengapa banyak yang jatuh hati Hujan jatuh tak pernah sendiri Seakan mengerti seperti apa itu sepi Walau hadirnya mengundang badai Namun ia pergi berjejak pelangi Di sudut kafe ini Aku duduk ditemani secangkir kopi Menghirup wanginya sekali Lalu menyesapnya dengan hati-hati Mengamati hujan yang tak kunjung usai Diam-diam perasaan itu merayapi hati Ah, dilema ini lagi, aku membatin Hujan selalu memberiku dua arti Arti yang selalu gagal kupahami Entah dia ingin bermain teka-teki Sedang aku kurang melahap kisi Di satu waktu aku ingin dia berhenti Hadirnya yang berisik membuatku terusik Sudah cukup hatiku menahan perih Yang kubutuh kini hanya sunyi Di waktu yang sama aku ingin dia tak pergi Biarlah tetap berisik untuk menemani Walau yang kudamba adalah sepi, Aku tak suka ditinggal sendir...